Press Releases
print

Investasi dan Mobilisasi IFC Mencatat Rekor 804 juta dolar Amerika Modal Jangka Panjang di Indonesia untuk mendukung Pengembangan Infrastruktur dan Pasar Modal.


Di Jakarta, Indonesia:
Helen Lumban Gaol
Phone: +62 21 2994-8090
E-mail: hlumbangaol@ifc.org



Jakarta, Indonesia, 8 Oktober, 2014—IFC,  anggota Kelompok Bank Dunia, meningkatkan investasinya dalam mata uang rupiah dan mata uang asing di Indonesia secara signifikan ke rekor terbaru sebesar 804 juta dolar Amerika, meningkat 84 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah investasi IFC diperkirakan akan meningkat mencapai lebih dari 1 miliar dolar Amerika dalam tahun fiskal 2015 yang sedang berjalan. Hampir tiga perempat investasi IFC selama tahun fiskal 2014 (berakhir 30 Juni 2014) adalah di sektor infrastruktur, dan IFC mendukung rencana pemerintah baru untuk membangun lebih banyak infrastruktur.

“Rekor investasi dan mobilisasi IFC baik dalam mata uang asing dan mata uang Rupiah yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan-perusahaan, menggaris bawahi komitmen kami yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkesinambungan,” ujar Vivek Pathak, Direktur IFC untuk kawasan Asia dan Pasifik. “Prioritas utama kami tahun ini adalah bekerjasama dengan sektor swasta dan pemerintah baru untuk meningkatkan sektor infastruktur dan pasar modal yang akan mendorong daya saing negara ini untuk jangka panjang.”

Sejak IFC beroperasi di Indonesia 46 tahun lalu,  IFC sudah membiayai  total investasi sebesar 6,2 miliar dolar Amerika dan hampir seperempatnya kami lakukan hanya dalam 15 bulan terakhir. Dari 1,5 miliar dolar Amerika dalam 15 bulan terakhir ini, sekitar 1 miliar dolar Amerika adalah untuk proyek-proyek infrastruktur dan manufaktur skala besar – dua sektor yang sangat membutuhkan investasi segar.

Dua investasi besar IFC di kedua sektor ini adalah pemberian pinjaman jangka panjang sebesar 509 juta dolar Amerika ke PT Panca Amara Utama (PAU), perusahaan manufaktur bahan kimia bulan lalu dan fasilitas pinjaman sebesar 280 juta dolar Amerika ke produser listrik independen PT Bajradaya Sentranusa (BDSN).  Pemberian pinjaman yang pertama adalah membiayai pabrik baru amoniak di provinsi Sulawesi Tengah guna mendorong sektor manufaktur serta menciptakan lapangan pekerjaan, sementara pemberian pinjaman yang terakhir adalah untuk mendukung operasi jangka panjang Asahan 1, pembangkit listrik tenaga air berkekuatan 180 megawat di provinsi Sumatra Utara yang menyediakan listrik berbiaya rendah dengan energi terbarukan.

Dalam upaya memperkuat pengembangan pasar modal Indonesia, IFC bermitra dengan PT Ciputra Residence, salah satu perusahaan pengembang perumahan terkemuka di Indonesia bulan April lalu dengan memberikan jaminan 20 persen dari jumlah pokok obligasi sebesar 500 miliar rupiah (sekitar 41 juta dolar Amerika) yang diterbitkan oleh PT Ciputra Residence. Pemberian Partial Credit Guarantee oleh IFC berhasil meningkatkan peringkat obligasi ini, sehingga menarik minat lebih banyak institusi penanam modal (institutional investors).

“IFC percaya pembangunan infrastruktur berskala besar dan penguatan pasar modal sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang,” ujar Sarvesh Suri, IFC Country Manager untuk Indonesia. “Kami berkomitmen mendukung rencana-rencana pemerintah baru yang segera bertugas untuk pembangunan layanan infrastruktur yang bermanfaat bagi rakyat Indonesia.”

Guna mendorong transparansi dan akuntabilitas diantara perusahaan-perusahaan terbuka di Indonesia, IFC membantu Otoritas Jasa Keuangan mengembangkan dan meluncurkan peta jalan tata kelola perusahaan atau lebih dikenal dengan a corporate-governance roadmap dan buku panduan tata kelola perusahaan bulan Februari lalu. Roadmap Corporate Governance menganalisa celah-celah yang ada dalam praktek tata kelola perusahaan serta memberi rekomendasi perubahan dalam peraturan-peraturan dan persyaratan-persyaratan pencatatan saham ke bursa saham untuk memperkuat iklim usaha.

Pada tahun fiskal 2014, hampir tiga perempat investasi IFC di Indonesia atau sekitar 596 juta dolar Amerika adalah di sektor infrastruktur, 127 juta dolar Amerika di sektor manufaktur, agribisnis dan perusahaan jasa, dan 81 juta dolar Amerika untuk sektor pasar keuangan.

Total investasi IFC di kawasan Asia Pasifik untuk tahun fiskal 2014 mencatat rekor baru yaitu sebesar 4,2 miliar dolar Amerika (termasuk 1,4 miliar dolar Amerika yang kami mobilisasi dari investor-investor lain), meningkat 24 persen dari tahun fiskal 2013.

Tentang IFC
IFC, anggota Kelompok Bank Dunia, merupakan institusi pembangunan global terbesar yang berfokus pada sektor swasta. Bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan swasta di lebih dari 100 negara, kami menggunakan modal, keahlian dan pengaruh kami untuk mengurangi kemiskinan dan mendukung kesejahteraan bersama. Pada tahun fiskal 2014, kami menyediakan pembiayaan lebih dari 22 miliar dolar Amerika untuk meningkatkan taraf hidup di negara-negara berkembang dan mengatasi tantangan pembangunan yang paling mendesak. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.ifc.org


Stay Connected
www.ifc.org/eastasia
www.twitter.com/IFC_EAP
www.facebook.com/IFCindonesia
www.facebook.com/IFCwbg
www.youtube.com/IFCvideocasts
www.ifc.org/SocialMediaIndex